Pendahuluan
Dewasa
ini perkembangan teknologi semakin pesat, sehingga anak-anak tanpa kecuali anak
SD lebih tertarik dengan internet, game, jejaring sosial daripada mendengarkan
pelajaran yang disampaikan oleh guru di kelas. Guru pada zaman ini dituntut
untuk dapat menyampaikan materi pembelajaran dengan menarik menggunakan metode-metode
pembelajaran dan dapat menciptakan suasana kelas yang lebih hidup. Terkadang
guru sudah menciptakan suasana kelas yang berbeda dari yang sebelumnya, namun
siswa masih tetap merasa jenuh dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Ada
juga guru yang kurang peka terhadap siswanya menyampaikan banyak materi
pelajaran, pada posisi itu siswa merasa sangat jenuh, bosan, dan mungkin kurang
fokus saat menerima materi yang disampaikan oleh guru. Guru seharusnya
mengetahui kemampuan siswanya dalam menangkap atau memahami materi yang telah
disampaikannya, bukannya memberikan banyak materi agar cepat selesai namun
siswa malah tidak memahaminya. Guru setiap harinya juga mempunyai target harus
menyampaikan seberapa banyak materi terhadap siswanya, namun semuanya harus di
ukur sesuai dengan kemampuan siswa. Tidak dapat dipungkiri apabila dalam proses
belajar mengajar ada beberapa siswa yang mengantuk dan kurang fokus, hal ini
wajar karena mereka telah mengikuti proses belajar mengajar dari pagi.
Oleh karena itu, guru dituntut untuk
dapat menarik kembali perhatian siswa agar memperhatikan materi pelajaran yang
disampaikan. Sebagai seorang guru juga harus mempunyai cara-cara untuk dapat
membuat siswanya tetap fokus. Guru harus mengamati setiap siswanya, apabila ada
siswa yang sudah tidak fokus dalam menerima materi pelajaran yang disampaikan
guru harus melakukan tindakan. Tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh guru
yaitu dengan cara disela-sela penyampaian materi pelajaran yang disampaikan ada
suatu permainan yang bertujuan membuat siswa tidak bosan dalam menerima
pelajaran. Dalam hal ini guru melibatkan siswa (siswa ikut berperan) dalam
suatu permainan yang memang telah direncanakan oleh guru. Permainan itu
tentunya masih bersangkutan dengan materi pelajaran yang disampaikan. Permainan
ini bertujuan untuk merefresh, memfokuskan
kembali, dan melatih konsentrasi siswa. Dengan adanya suatu permainan ini
diharapkan dapat meningkatkan kefokusan siswa dalam menerima pelajaran yang
disampaikan oleh guru dan tidak bosan serta siap untuk dapat menerima materi
selanjutnya yang akan disampaikan oleh guru.
Pembahasan
A. Guru
dalam proses pembelajaran
Pembelajaran merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar siswa
belajar. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal
disekolah yang di dalamnya terjadi proses interaksi antara guru, materi
pelajaran, dan siswa. Selain itu juga melibatkan sarana dan prasarana, seperti
metode, media sehingga diharapkan dapat tercapainya tujuan yang telah
direncanakan sebelumnya. Guru memegang peranan sentral dalam proses belajar
mengajar yang menjalankan tiga tugas utamanya yaitu merencanakan, melaksanakan
pengajaran, dan memberi balikan.
Peran guru dalam aktivitas pembelajaran
sangat kompleks, tidak sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak
didiknya, akan tetapi guru juga dituntut untuk memainkan berbagai peran untuk
mengembangkan potensi anak didiknya secara optimal. Prinsip-prinsip yang harus
dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar
adalahmengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis, mengajar
harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa, kesiapan dalam belajar
sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar, tujuan belajar harus
diketahui siswa, mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang belajar. Peran
guru dalam pembelajaran sebagai :
a. Korektor
= guru menilai dan mengoreksi semua hasil belajar, sikap, tingkah laku, dan
perbuatan siswa baik di luar sekolah sehingga pada akhirnya siswa dapat
mengetahui.
b. Inspirator
= guru dapat memberikan inspirasi atau ilham kepada siswa mengenai cara yang
baik.
c. Informator
= guru dapat memberikan informasi yang baik dan efektif mengenai materi
pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum serta informasi mengenai
IPTEK.
d. Organisator
= guru berperan untuk mengelola berbagai kegiatan akademik baik intrakurikuler
maupun ekstrakurikuler sehingga tercapai efektivitas dan efisiensi belajar anak
didik.
e. Motivator
= guru dituntut untuk dapat mendorong anak didiknya agar senantiasa memiliki
motivasi tinggi dan aktif belajar.
f. Inisiator
= guru dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
g. Fasilitator
= guru dapat menyediakan fasilitas yang memungkinakan anak didik dapat belajar
dengan optimal.
h. Pembimbing
= guru dapat memberikan bimbingan kepada anak didiknya dalam menghadapi tantangan
maupun kesulitan belajar.
i.
Demonstrator = guru dapat memperagakan
apa yang diajarkan secara didaktis sehingga anak didik dapat memahami materi
yang dijelaskan guru secara optimal.
j.
Pengelola kelas = guru dapat mengelola
kelas dengan baik kerena kelas adalah tempat berhimpun guru dan siswa dlam
proses pembelajaran.
k. Mediator
= guru dapat berperan sebagai penyedia media dan penengah dalam proses
pembelajaran anak didik.
l.
Supervisor = guru dapat membantu,
memperbaiki, dan menilai secara kritis proses pembelajaran yang dilakukan
sehingga pada akhrnya proses pembelajaran dapat optimal.
m. Evaluator
= guru dituntut untuk mampu menilai
produk (hasil) pembelajaran serta proses (jalannya) pembelajaran.
B.Mengenal kararter siswa
Siswa merupakan kumpulan dari individu
yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Ada anggapan bahwa semua siswa
diharapkan mampu menangkap atau mengerti bahan pelajaran yang mempunyai
kesamaan materi dan penyajian bagi semua siswa pada kelas yang sama. Siswa yang tidak mampu
menangkap materi akan terlihat jelas, hal ini disebabkan faktor kemalasan.
Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda dalam menguasasi satu atau lebih
bahan pelajaran. Guru hendaknya menyesuaikan perbedaan setiap siswanya. Setiap
siswa pasti memiliki kemampuan, kemampuan seering diartikan secara sederhana
sebagai kecerdasan. Kecerdasan adalah kemampuan dalam belajar.
Dalam proses pembelajaran, tugas guru
tidak hanya sekadar menyampaikan atau mentransfer ilmu atau bahan pelajaran
kepada peserta didik. Guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggung jawab
atas perkembangan peserta didik. Karena itu guru dalam proses pembelajaran
harus memperhatikan kemampuan peserta didik secara individual, agar dapat
membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Tidak semua siswa dapat
menguasai bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dengan kata lain, guru
dalam mengajar sering menjumpai peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.
Karena itu guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengenali peserta didik yang
mengalmi kesulitan belajar, dan mencari faktor penyebab kesulitan belajar
tersebut. Selanjutnya diharapkan guru dapat menentukan teknik untuk membantu
mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik. Kegiatan memahami
kesulitan belajar peserta didik dikenal dengan istilah diagnosis kesulitan
belajar.
Sikap dan perilaku anak-anak yang
menyimpang karena adanya suatu masalah dapat juga mengganggu tugas-tugas
perkembangan anak pada fase berikutnya yaitu fase masa puber dan sebagai
akibatnya, anak akan mengalami gangguan dalam menjalani kehidupan.
Jenis-jenis masalah yang dialami murid
sekolah dasar bisa bermacam-macam. Prayitno (1985) menyusun serangkaian masalah
murid sekolah dasar. Masalah-masalah itu diklarifikasikan atas:
1. kemampuan
akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup
tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.
2. ketercepatan
dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki IQ 130 atau lebih tetapi masih
memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajar
yang amat tinggi itu.
3. sangat
lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki akademik yang kurang
memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran
khusus.
4. kurang
motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam
belajar mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
5. bersikap
dan berkebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang perbuatan dan
kegiatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya, seperti
suka menunda-nunda tugas, mengulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya
untuk hal-hal yang tidak diketahuinya dan sebagainya.
Adapun masalah-masalah siswa yang
umumnya ditemukan dalam proses belajar, yaitu masalah gangguan sosial
emosional, berikut beberapa contoh gangguan sosial emosional yang nampak di
kelas yaitu :
1. Anak hiperaktif, anak seperti ini cenderung
tidak bisa duduk diam. Ia cenderung bergerak terus-menerus, kadang suka
berlarian, suka melompat-lompat, bahkan berteriak-teriak di kelas. Anak ini
sulit untuk dikontrol. Ia melakukan aktivitas sesuai dengan kemauannya sendiri.
Ia pun suka mengganggu temannya bahkan gurunya.
2. Distractibility child
adalah anak yang cenderung cepat bosan. Ia sering kali mengalihkan perhatiannya
ke berbagai objek lain di kelas. Anak ini mudah dipengaruhi, namun tidak dapat
memusatkan perhatian pada kegiatan-kegiatan yang berlangsung di kelas.
3. Poor self concept,
anak yang cenderung pendiam di kelas, pasif, atau sangat perasa sehingga mudah
tersinggung. Karakteristik anak seperti ini cenderung tidak berani bertanya
atau menjawab, serta merasa dirinya tidak mampu. Karena itu, ia cenderung
kurang berani bergaul serta suka menyendiri.
4. Anak
impulsif adalah anak yang cepat
bereaksi setiap guru memberi pertanyaan di kelas.Namun, jawaban yang diberikan
sering kali tidak menunjukkan kemampuan berpikir yang logis. Anak seperti ini
ingin menunjukkan bahwa ia adalah anak yang pandai, padahal cara anak itu
menjawab justru mencerminkan ketidakmampuannya.
5. Anak
destructive behavior, siswa yang suka
merusak benda-benda yang ada di sekitarnya. Sikap agresif yang negatif dalam
bentuk membanting dan melempar menunjukkan bahwa anak ini adalah anak yang
bermasalah (trouble maker). Anak
seperti ini cepat tersinggung. Ia bertempramen tinggi, yang mengarah kepada
perilaku agresif.
6. Distruptive behavior
adalah anak yang sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan. Dengan
nada mengejek, anak ini cenderung menentang guru. Sumpah serapah berupa
kata-kata kasar yang tidak sopan kerap terlontar.
7. Dependency child, anak
yang selalu bergantung pada orang tuanya. Anak seperti ini sering merasa takut
dan tidak mampu untuk berani melakukannya sendiri. Ia sangat bergantung pada
orang disekitarnya. Sikap orang tua yang terlalu over protective atau sangat
melindungi membuat anak sangat tergantung.
8. Withdrawl
yaitu anak yang mempunyai sosial ekonomi yang sangat rendah, sehingga merasa
dirinya bodoh dan enggan untuk mencoba membuat tugas-tugas yang diberikan oleh
guru karena dirinya merasa tidak mampu.
9. Learning disability
adalah anak-anak yang tidak memiliki kemampuan mental yang setara dengan
anak-anak yang sebaya. Anak seperti ini sulit untuk menganalisis, menangkap isi
mata pelajaran, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari.
10. Learning disorder
adalah anak yang mempunyai cacat bawaan baik kerusakan fisik maupun syaraf.
Anak seperti ini cenderung sulit untuk belajar secara normal seperti anak-anak
yang sebaya. Anak seperti ini membutuhkan penanganan para ahli yang dilakukan
oleh lembaga-lembaga khusus, seperti anak yang menderita Autism Sectrum Disorder/ASD.
11. Underachiever,
yaitu anak yang mempunyai potensi intelektual di atas rata-rata, namun prestasi
akademiknya di kelas sangat rendah. Semangat belajarnya juga sangat rendah.
Anak seperti ini sering menyepelekan tugas-tugas yang diberikan, dan PR sering
dilupakan.
12. Overachiever
adalah anak yang mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi, ia merespon
dengan cara cepat. Anak seperti ini tidak bisa menerima kegagalan. Ia tidak
mudah menerima kritikkan dari siapapun termasuk gurunya.
13. Slow learner
adalah anak yang sulit menangkap pelajaran di kelas dan membutuhkan waktu yang
lama untuk dapat menjawab dan mengerjakan tugas-tugasnya.
14. Social interseption child
adalah anak yang kurang peka dan tidak perduli terhadap lingkungannya. Anak ini
kurang tanggap dalam membaca ekspresi dan sulit bergaul dengan teman-teman yang
ada di kelas.
C.Mengenal Ice Breaking
Menurut Dryden & Vos (2000) belajar
akan efektif bila proses pembelajaran dilaksanakan dengan suasana yang menyenangkan
(joyfull learning). Ada beberapa hal
yang mendukung efektivitas hasil belajar siswa diantaranya siswa belajar dalam
kondisi senang, guru menggunakan berbagai variasi metode dan teknik,
menggunakan media belajar menarik dan menantang, penyesuaian dengan konteks,
pola induktif, dan siswa sebagai subjek dalam pembelajaran. Ice breaking dalam pembelajaran sangat
membantu dalam membuat suasana belajar yang menyenangkan. Caranya dapat secara
integratif atau secara khusus diberikan dalam sela atau jeda dalam proses
pembelajaran.
Ice
Breaking adalah padanan dua kata Inggris yang mengandung
makna “memecah es”. Istilah ini sering dipakai dalam training dengan maksud
menghilangkan kebekuan-kebekuan di antara peserta latihan, sehingga mereka
saling mengenal, mengerti dan bisa saling berinteraksi dengan baik antara satu
dengan yang lainnya. jika dikaitkan dengan model pembelajaran teknik ini dapat
memecah kebekuan suasana di kelas (Melvin silberman : 2009). Tujuan dilaksanakan ice breaking ini adalah :
a. Terciptanya
kondisi-kondisi yang equal (setarap) antar siswa dalam kelas.
b. Menghilangkan
sekat-sekat pembatas di antar siswa, sehingga tidak ada lagi anggapan si anu
pintar, si anu bodoh, si anu kaya, si anu bos dan lain sebagainya, yang ada
hanyalah kesamaan kesempatan untuk maju.
c. Terciptanya
kondisi yang dinamis di antara siswa.
d. Menimbulkan
kegairahan (motivasi) antara sesama sisqa untuk melakukan aktivitas selama proses
pembelajaran berlangsung.
e. Pemecah
suasana canggung.
f. Penghilang
rasa bosan.
g. Membuat
fokus kembali siswa yang tadinya sudah bosan.
h. Menambah
wawasan kita mengenai hal baru.
i.
Paling penting adalah membantu melatih otak kanan.
Banyak
metode yang dapat dilakukan dalam ice
breaking ini, di antaranya :
a. Metode
Ceramah, guru melakukan terlebih dahulu ceramah pembuka yang pada hakikatnya
menjelaskan tentang beberapa hal, antara lain : pentingnya kesatuan dalam suatu
komunitas, persamaan hak di antara sesama siswa, perlakukan yang sama, tim building, kesadaran potensi, kerjasama
antar kelompok dll.
b.
Metode Studi Kasus, yaitu memberikan
kesempatan kepada siswa untuk ikut andil memecahkan persoalan-persoalan praktis
sehari-hari yang ditawarkan oleh guru, tujuannya adalah ; Untuk melihat potensi
awal yang dimiliki masing-masing siswa baik dari segi afektif, kognitif maupun
psikomotornya; Membiasakan siswa untuk berinteraksi dengan kelompoknya yang
baru, dengan bertanya, menanggapi atau mengamati siswa lain; Memberikan
pengertian bahwa sejak hari itu mereka akan menjadi sebuah keluarga (sanak
famili) sampai kapanpun.
c. Metode
Sinetik, yaitu sebuah metode pengembangan sumbang saran, dimana dalam suatu
pemecahan masalah dipadukan berbagai pendapat dari berbagai disiplin ilmu
sehingga memunculkan solusi yang lebih kreatif terhadap persoalan yang muncul.
d. Metode
Lorong Penuh Liku, metode ini dimulai dari membaca beberapa halaman dari buku,
kemudian dipaksa untuk membuat keputusan. Berdasarkan keputusan itu siswa
diinstruksikan untuk membuka pada suatu halaman tertentu yang telah disusun
secara acak. Kemudian diberikan sebuah skenario yang berdasarkan keputusan yang
telah dibuat dan keputusan lebih lanjut akan mengirim anda ke halaman muka atau
halaman-halaman belakang dari buku, sampai akhirnya peserta keluar dari
lorong-lorong tersebut, mungkin setelah melakukan beberapa langkah-langkah yang
salah. (untuk penggunaan teknik ini, guru harus terlebih dahulu mempersiapkan
bahan-bahannya).
e. Metode
Simulasi dan Permainan, metode ini merupakan metode yang paling mudah
dilakukan, guru mempersiapkan beberapa permainan yang bertujuan untuk memecah
kebekuan (ice breaking games)
peserta. Permainan ini banyak sekali bentuknya, di antaranya adalah ; permainan
lempar kokarde, pesan berantai, ziq-zaq dan lain-lain. Tujuan simulasi ini
adalah : Terciptanya keakraban di antara siswa. Masing-masing siswa dapat
menghafal nama dan beberapa identitas penting siswa lainnya, Tertanamnya
anggapan bahwa mereka adalah satu kesatuan (solidaritas) “bila satu sakit, yang
lain akan ikut merasakannya”.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan saat ice breaking
1. Seorang
guru haruslah mempunyai naluri (feeling)
khusus yang kuat ketika melakukan proses ice breaking. Ia harus tahu saat siswa
sudah lebur atau belum dan masih harus dileburkan. Ketika siswa belum lebur
namun ice breaking sudah dihentikan, hal ini akan menyusahkan sewaktu penyajian
materi berikutnya.
2. Saat
melakukan ice breaking, seorang guru harus sudah dapat mendeteksi, (minimal
beberapa orang dari siswa sudah masuk dalam memorinya) tentang potensi awal,
sikap, sifat dan “karakteristik special”
seorang siswa.
3. Waktu
yang disediakan untuk melakukan ice breaking sangat kondisional, tergantung
kepada tingkat keleburan siswa. Ada siswa yang mudah lebur dan ada yang sulit
lebur, karena perbedaan latar belakang, dll yang sangat signifikan. Oleh karena
itu seorang pelatih harus mempunyai beberapa “jurus simpanan” yang harus
dikeluarkannya bila peserta sulit mengalami peleburan antara satu dengan yang
lainnya.
4. Menimbulkan
kesan positif, seorang guru haruslah dipandang oleh siswa dalam pandangan yang
positif, baik dari segi pendapat, sikap, sifat dan interaksinya dengan siswa,
karena tidak menutup kemungkinan nanti seorang guru akan menjadi tempat
“curhat” paling dipercaya bagi siswa yang mengalami persoalan-persoalan khusus.
Penutup
Pembelajaran merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar siswa
belajar. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal
di sekolah yang di dalamnya terjadi proses interaksi antara guru, materi
pelajaran, dan siswa. Peran guru dalam aktivitas pembelajaran sangat kompleks,
tidak sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi
guru juga dituntut untuk memainkan berbagai peran untuk mengembangkan potensi
anak didiknya secara optimal. Dalam proses pembelajaran harus memperhatikan
kemampuan peserta didik secara individual, agar dapat membantu perkembangan
peserta didik secara optimal. Tidak semua siswa dapat menguasai bahan pelajaran
yang disampaikan oleh guru. Karena itu guru dituntut untuk memiliki kemampuan
mengenali peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, dan mencari faktor
penyebab kesulitan belajar tersebut. Adapun masalah-masalah siswa yang umumnya
ditemukan dalam proses belajar, yaitu siswa sering cepat bosan atau siswa
merasa lelah karena materi yang diajarkan terlalu banyak. Belajar akan efektif
bila proses pembelajaran dilaksanakan dengan suasana yang menyenangkan (joyfull learning). Ice breaking dalam pembelajaran sangat membantu dalam membuat
suasana belajar yang menyenangkan. Caranya dapat secara secara khusus diberikan
dalam sela atau jeda dalam proses pembelajaran. Ice breaking dapat dilakukan dengan berbagai cara atau metode.
Diharapkan guru dalam memberikan ice
breaking berhubungan dengan mata pelajaran yang diberikan pada saat itu.
Dengan adanya ice breaking diharapkan
dapat menghilangkan rasa bosan dan membuat siswa fokus kembali sehingga siap
untuk melanjutkan pelajaran.
Daftar Pustaka
Sunarto
dan B. Agung Hartono. (2008). Perkembangan
Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Melvin
Silberman. (2009). Active Learning 101
Strategi Pembelajaran Aktif.
Sugihartono,
dkk. (2012). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta:
UNY Press.
Mumammad Ali. (2008). Guru Dalam Proses Belajar Mengajar.
Bandung: Sinar Baru Algensindo.
http://www.batararayamedia.com/jenis-masalah-siswa-di-sekolah-dasar_art-115.html
di unduh pada Senin, 11 Maret 2013 pada pukul 18.18 WIB.
http://www.andragogi.com/ice-breaking-dan-orientasi.html
di unduh pada Senin, 11 Maret 2013 pada pukul 18.45 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar