Senin, 18 Maret 2013

Ice Breaking Cara Efektif Dilakukan Guru untuk Memfokuskan Kembali Perhatian Siswa SD Oleh : Tiara Ajeng Permana



Pendahuluan
Dewasa ini perkembangan teknologi semakin pesat, sehingga anak-anak tanpa kecuali anak SD lebih tertarik dengan internet, game, jejaring sosial daripada mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru di kelas. Guru pada zaman ini dituntut untuk dapat menyampaikan materi pembelajaran dengan menarik menggunakan metode-metode pembelajaran dan dapat menciptakan suasana kelas yang lebih hidup. Terkadang guru sudah menciptakan suasana kelas yang berbeda dari yang sebelumnya, namun siswa masih tetap merasa jenuh dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Ada juga guru yang kurang peka terhadap siswanya menyampaikan banyak materi pelajaran, pada posisi itu siswa merasa sangat jenuh, bosan, dan mungkin kurang fokus saat menerima materi yang disampaikan oleh guru. Guru seharusnya mengetahui kemampuan siswanya dalam menangkap atau memahami materi yang telah disampaikannya, bukannya memberikan banyak materi agar cepat selesai namun siswa malah tidak memahaminya. Guru setiap harinya juga mempunyai target harus menyampaikan seberapa banyak materi terhadap siswanya, namun semuanya harus di ukur sesuai dengan kemampuan siswa. Tidak dapat dipungkiri apabila dalam proses belajar mengajar ada beberapa siswa yang mengantuk dan kurang fokus, hal ini wajar karena mereka telah mengikuti proses belajar mengajar dari pagi.
            Oleh karena itu, guru dituntut untuk dapat menarik kembali perhatian siswa agar memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan. Sebagai seorang guru juga harus mempunyai cara-cara untuk dapat membuat siswanya tetap fokus. Guru harus mengamati setiap siswanya, apabila ada siswa yang sudah tidak fokus dalam menerima materi pelajaran yang disampaikan guru harus melakukan tindakan. Tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh guru yaitu dengan cara disela-sela penyampaian materi pelajaran yang disampaikan ada suatu permainan yang bertujuan membuat siswa tidak bosan dalam menerima pelajaran. Dalam hal ini guru melibatkan siswa (siswa ikut berperan) dalam suatu permainan yang memang telah direncanakan oleh guru. Permainan itu tentunya masih bersangkutan dengan materi pelajaran yang disampaikan. Permainan ini bertujuan untuk merefresh, memfokuskan kembali, dan melatih konsentrasi siswa. Dengan adanya suatu permainan ini diharapkan dapat meningkatkan kefokusan siswa dalam menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru dan tidak bosan serta siap untuk dapat menerima materi selanjutnya yang akan disampaikan oleh guru.
Pembahasan
A.  Guru dalam proses pembelajaran
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar siswa belajar. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal disekolah yang di dalamnya terjadi proses interaksi antara guru, materi pelajaran, dan siswa. Selain itu juga melibatkan sarana dan prasarana, seperti metode, media sehingga diharapkan dapat tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar yang menjalankan tiga tugas utamanya yaitu merencanakan, melaksanakan pengajaran, dan memberi balikan.
Peran guru dalam aktivitas pembelajaran sangat kompleks, tidak sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi guru juga dituntut untuk memainkan berbagai peran untuk mengembangkan potensi anak didiknya secara optimal. Prinsip-prinsip yang harus dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar adalahmengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa, pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis, mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa, kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar, tujuan belajar harus diketahui siswa, mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang belajar. Peran guru dalam pembelajaran sebagai :
a.       Korektor = guru menilai dan mengoreksi semua hasil belajar, sikap, tingkah laku, dan perbuatan siswa baik di luar sekolah sehingga pada akhirnya siswa dapat mengetahui.
b.      Inspirator = guru dapat memberikan inspirasi atau ilham kepada siswa mengenai cara yang baik.
c.       Informator = guru dapat memberikan informasi yang baik dan efektif mengenai materi pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum serta informasi mengenai IPTEK.
d.      Organisator = guru berperan untuk mengelola berbagai kegiatan akademik baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler sehingga tercapai efektivitas dan efisiensi belajar anak didik.
e.       Motivator = guru dituntut untuk dapat mendorong anak didiknya agar senantiasa memiliki motivasi tinggi dan aktif belajar.
f.       Inisiator = guru dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
g.      Fasilitator = guru dapat menyediakan fasilitas yang memungkinakan anak didik dapat belajar dengan optimal.
h.      Pembimbing = guru dapat memberikan bimbingan kepada anak didiknya dalam menghadapi tantangan maupun kesulitan belajar.
i.        Demonstrator = guru dapat memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis sehingga anak didik dapat memahami materi yang dijelaskan guru secara optimal.
j.        Pengelola kelas = guru dapat mengelola kelas dengan baik kerena kelas adalah tempat berhimpun guru dan siswa dlam proses pembelajaran.
k.      Mediator = guru dapat berperan sebagai penyedia media dan penengah dalam proses pembelajaran anak didik.
l.        Supervisor = guru dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis proses pembelajaran yang dilakukan sehingga pada akhrnya proses pembelajaran dapat optimal.
m.    Evaluator =  guru dituntut untuk mampu menilai produk (hasil) pembelajaran serta proses (jalannya) pembelajaran.
B.Mengenal kararter siswa
Siswa merupakan kumpulan dari individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Ada anggapan bahwa semua siswa diharapkan mampu menangkap atau mengerti bahan pelajaran yang mempunyai kesamaan materi dan penyajian bagi semua siswa pada  kelas yang sama. Siswa yang tidak mampu menangkap materi akan terlihat jelas, hal ini disebabkan faktor kemalasan. Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda dalam menguasasi satu atau lebih bahan pelajaran. Guru hendaknya menyesuaikan perbedaan setiap siswanya. Setiap siswa pasti memiliki kemampuan, kemampuan seering diartikan secara sederhana sebagai kecerdasan. Kecerdasan adalah kemampuan dalam belajar.
Dalam proses pembelajaran, tugas guru tidak hanya sekadar menyampaikan atau mentransfer ilmu atau bahan pelajaran kepada peserta didik. Guru sebagai pendidik dituntut untuk bertanggung jawab atas perkembangan peserta didik. Karena itu guru dalam proses pembelajaran harus memperhatikan kemampuan peserta didik secara individual, agar dapat membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Tidak semua siswa dapat menguasai bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dengan kata lain, guru dalam mengajar sering menjumpai peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Karena itu guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengenali peserta didik yang mengalmi kesulitan belajar, dan mencari faktor penyebab kesulitan belajar tersebut. Selanjutnya diharapkan guru dapat menentukan teknik untuk membantu mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik. Kegiatan memahami kesulitan belajar peserta didik dikenal dengan istilah diagnosis kesulitan belajar.
Sikap dan perilaku anak-anak yang menyimpang karena adanya suatu masalah dapat juga mengganggu tugas-tugas perkembangan anak pada fase berikutnya yaitu fase masa puber dan sebagai akibatnya, anak akan mengalami gangguan dalam menjalani kehidupan.
Jenis-jenis masalah yang dialami murid sekolah dasar bisa bermacam-macam. Prayitno (1985) menyusun serangkaian masalah murid sekolah dasar. Masalah-masalah itu diklarifikasikan atas:
1.  kemampuan akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.
2.  ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki IQ 130 atau lebih tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajar yang amat tinggi itu.
3.  sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.
4.  kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
5.  bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang perbuatan dan kegiatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya dan sebagainya.
Adapun masalah-masalah siswa yang umumnya ditemukan dalam proses belajar, yaitu masalah gangguan sosial emosional, berikut beberapa contoh gangguan sosial emosional yang nampak di kelas yaitu :
1.      Anak hiperaktif, anak seperti ini cenderung tidak bisa duduk diam. Ia cenderung bergerak terus-menerus, kadang suka berlarian, suka melompat-lompat, bahkan berteriak-teriak di kelas. Anak ini sulit untuk dikontrol. Ia melakukan aktivitas sesuai dengan kemauannya sendiri. Ia pun suka mengganggu temannya bahkan gurunya.
2.      Distractibility child adalah anak yang cenderung cepat bosan. Ia sering kali mengalihkan perhatiannya ke berbagai objek lain di kelas. Anak ini mudah dipengaruhi, namun tidak dapat memusatkan perhatian pada kegiatan-kegiatan yang berlangsung di kelas.
3.      Poor self concept, anak yang cenderung pendiam di kelas, pasif, atau sangat perasa sehingga mudah tersinggung. Karakteristik anak seperti ini cenderung tidak berani bertanya atau menjawab, serta merasa dirinya tidak mampu. Karena itu, ia cenderung kurang berani bergaul serta suka menyendiri.
4.      Anak impulsif adalah anak yang cepat bereaksi setiap guru memberi pertanyaan di kelas.Namun, jawaban yang diberikan sering kali tidak menunjukkan kemampuan berpikir yang logis. Anak seperti ini ingin menunjukkan bahwa ia adalah anak yang pandai, padahal cara anak itu menjawab justru mencerminkan ketidakmampuannya.
5.      Anak destructive behavior, siswa yang suka merusak benda-benda yang ada di sekitarnya. Sikap agresif yang negatif dalam bentuk membanting dan melempar menunjukkan bahwa anak ini adalah anak yang bermasalah (trouble maker). Anak seperti ini cepat tersinggung. Ia bertempramen tinggi, yang mengarah kepada perilaku agresif.
6.      Distruptive behavior adalah anak yang sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan. Dengan nada mengejek, anak ini cenderung menentang guru. Sumpah serapah berupa kata-kata kasar yang tidak sopan kerap terlontar.
7.      Dependency child, anak yang selalu bergantung pada orang tuanya. Anak seperti ini sering merasa takut dan tidak mampu untuk berani melakukannya sendiri. Ia sangat bergantung pada orang disekitarnya. Sikap orang tua yang terlalu over protective atau sangat melindungi membuat anak sangat tergantung.
8.      Withdrawl yaitu anak yang mempunyai sosial ekonomi yang sangat rendah, sehingga merasa dirinya bodoh dan enggan untuk mencoba membuat tugas-tugas yang diberikan oleh guru karena dirinya merasa tidak mampu.
9.      Learning disability adalah anak-anak yang tidak memiliki kemampuan mental yang setara dengan anak-anak yang sebaya. Anak seperti ini sulit untuk menganalisis, menangkap isi mata pelajaran, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari.
10.  Learning disorder adalah anak yang mempunyai cacat bawaan baik kerusakan fisik maupun syaraf. Anak seperti ini cenderung sulit untuk belajar secara normal seperti anak-anak yang sebaya. Anak seperti ini membutuhkan penanganan para ahli yang dilakukan oleh lembaga-lembaga khusus, seperti anak yang menderita Autism Sectrum Disorder/ASD.
11.  Underachiever, yaitu anak yang mempunyai potensi intelektual di atas rata-rata, namun prestasi akademiknya di kelas sangat rendah. Semangat belajarnya juga sangat rendah. Anak seperti ini sering menyepelekan tugas-tugas yang diberikan, dan PR sering dilupakan.
12.  Overachiever adalah anak yang mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi, ia merespon dengan cara cepat. Anak seperti ini tidak bisa menerima kegagalan. Ia tidak mudah menerima kritikkan dari siapapun termasuk gurunya.
13.  Slow learner adalah anak yang sulit menangkap pelajaran di kelas dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menjawab dan mengerjakan tugas-tugasnya.
14.  Social interseption child adalah anak yang kurang peka dan tidak perduli terhadap lingkungannya. Anak ini kurang tanggap dalam membaca ekspresi dan sulit bergaul dengan teman-teman yang ada di kelas.
C.Mengenal Ice Breaking
Menurut Dryden & Vos (2000) belajar akan efektif bila proses pembelajaran dilaksanakan dengan suasana yang menyenangkan (joyfull learning). Ada beberapa hal yang mendukung efektivitas hasil belajar siswa diantaranya siswa belajar dalam kondisi senang, guru menggunakan berbagai variasi metode dan teknik, menggunakan media belajar menarik dan menantang, penyesuaian dengan konteks, pola induktif, dan siswa sebagai subjek dalam pembelajaran. Ice breaking dalam pembelajaran sangat membantu dalam membuat suasana belajar yang menyenangkan. Caranya dapat secara integratif atau secara khusus diberikan dalam sela atau jeda dalam proses pembelajaran.
Ice Breaking adalah padanan dua kata Inggris yang mengandung makna “memecah es”. Istilah ini sering dipakai dalam training dengan maksud menghilangkan kebekuan-kebekuan di antara peserta latihan, sehingga mereka saling mengenal, mengerti dan bisa saling berinteraksi dengan baik antara satu dengan yang lainnya. jika dikaitkan dengan model pembelajaran teknik ini dapat memecah kebekuan suasana di kelas (Melvin silberman : 2009).  Tujuan dilaksanakan ice breaking ini adalah :
a.       Terciptanya kondisi-kondisi yang equal (setarap) antar siswa dalam kelas.
b.      Menghilangkan sekat-sekat pembatas di antar siswa, sehingga tidak ada lagi anggapan si anu pintar, si anu bodoh, si anu kaya, si anu bos dan lain sebagainya, yang ada hanyalah kesamaan kesempatan untuk maju.
c.       Terciptanya kondisi yang dinamis di antara siswa.
d.      Menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesama sisqa untuk melakukan aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung.
e.       Pemecah suasana canggung.
f.       Penghilang rasa bosan.
g.      Membuat fokus kembali siswa yang tadinya sudah bosan.
h.      Menambah wawasan kita mengenai hal baru.
i.        Paling penting adalah membantu melatih otak kanan.
Banyak metode yang dapat dilakukan dalam ice breaking ini, di antaranya :
a.       Metode Ceramah, guru melakukan terlebih dahulu ceramah pembuka yang pada hakikatnya menjelaskan tentang beberapa hal, antara lain : pentingnya kesatuan dalam suatu komunitas, persamaan hak di antara sesama siswa, perlakukan yang sama,  tim building, kesadaran potensi, kerjasama antar kelompok dll.
b.      Metode Studi Kasus, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk ikut andil memecahkan persoalan-persoalan praktis sehari-hari yang ditawarkan oleh guru, tujuannya adalah ; Untuk melihat potensi awal yang dimiliki masing-masing siswa baik dari segi afektif, kognitif maupun psikomotornya; Membiasakan siswa untuk berinteraksi dengan kelompoknya yang baru, dengan bertanya, menanggapi atau mengamati siswa lain; Memberikan pengertian bahwa sejak hari itu mereka akan menjadi sebuah keluarga (sanak famili) sampai kapanpun.
c.       Metode Sinetik, yaitu sebuah metode pengembangan sumbang saran, dimana dalam suatu pemecahan masalah dipadukan berbagai pendapat dari berbagai disiplin ilmu sehingga memunculkan solusi yang lebih kreatif terhadap persoalan yang muncul.
d.      Metode Lorong Penuh Liku, metode ini dimulai dari membaca beberapa halaman dari buku, kemudian dipaksa untuk membuat keputusan. Berdasarkan keputusan itu siswa diinstruksikan untuk membuka pada suatu halaman tertentu yang telah disusun secara acak. Kemudian diberikan sebuah skenario yang berdasarkan keputusan yang telah dibuat dan keputusan lebih lanjut akan mengirim anda ke halaman muka atau halaman-halaman belakang dari buku, sampai akhirnya peserta keluar dari lorong-lorong tersebut, mungkin setelah melakukan beberapa langkah-langkah yang salah. (untuk penggunaan teknik ini, guru harus terlebih dahulu mempersiapkan bahan-bahannya).
e.       Metode Simulasi dan Permainan, metode ini merupakan metode yang paling mudah dilakukan, guru mempersiapkan beberapa permainan yang bertujuan untuk memecah kebekuan (ice breaking games) peserta. Permainan ini banyak sekali bentuknya, di antaranya adalah ; permainan lempar kokarde, pesan berantai, ziq-zaq dan lain-lain. Tujuan simulasi ini adalah : Terciptanya keakraban di antara siswa. Masing-masing siswa dapat menghafal nama dan beberapa identitas penting siswa lainnya, Tertanamnya anggapan bahwa mereka adalah satu kesatuan (solidaritas) “bila satu sakit, yang lain akan ikut merasakannya”.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat ice breaking
1.      Seorang guru haruslah mempunyai naluri (feeling) khusus yang kuat ketika melakukan proses ice breaking. Ia harus tahu saat siswa sudah lebur atau belum dan masih harus dileburkan. Ketika siswa belum lebur namun ice breaking sudah dihentikan, hal ini akan menyusahkan sewaktu penyajian materi berikutnya.
2.      Saat melakukan ice breaking, seorang guru harus sudah dapat mendeteksi, (minimal beberapa orang dari siswa sudah masuk dalam memorinya) tentang potensi awal, sikap, sifat dan “karakteristik special” seorang siswa.
3.      Waktu yang disediakan untuk melakukan ice breaking sangat kondisional, tergantung kepada tingkat keleburan siswa. Ada siswa yang mudah lebur dan ada yang sulit lebur, karena perbedaan latar belakang, dll yang sangat signifikan. Oleh karena itu seorang pelatih harus mempunyai beberapa “jurus simpanan” yang harus dikeluarkannya bila peserta sulit mengalami peleburan antara satu dengan yang lainnya.
4.      Menimbulkan kesan positif, seorang guru haruslah dipandang oleh siswa dalam pandangan yang positif, baik dari segi pendapat, sikap, sifat dan interaksinya dengan siswa, karena tidak menutup kemungkinan nanti seorang guru akan menjadi tempat “curhat” paling dipercaya bagi siswa yang mengalami persoalan-persoalan khusus.
Penutup
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar siswa belajar. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal di sekolah yang di dalamnya terjadi proses interaksi antara guru, materi pelajaran, dan siswa. Peran guru dalam aktivitas pembelajaran sangat kompleks, tidak sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi guru juga dituntut untuk memainkan berbagai peran untuk mengembangkan potensi anak didiknya secara optimal. Dalam proses pembelajaran harus memperhatikan kemampuan peserta didik secara individual, agar dapat membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Tidak semua siswa dapat menguasai bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Karena itu guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengenali peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, dan mencari faktor penyebab kesulitan belajar tersebut. Adapun masalah-masalah siswa yang umumnya ditemukan dalam proses belajar, yaitu siswa sering cepat bosan atau siswa merasa lelah karena materi yang diajarkan terlalu banyak. Belajar akan efektif bila proses pembelajaran dilaksanakan dengan suasana yang menyenangkan (joyfull learning). Ice breaking dalam pembelajaran sangat membantu dalam membuat suasana belajar yang menyenangkan. Caranya dapat secara secara khusus diberikan dalam sela atau jeda dalam proses pembelajaran. Ice breaking dapat dilakukan dengan berbagai cara atau metode. Diharapkan guru dalam memberikan ice breaking berhubungan dengan mata pelajaran yang diberikan pada saat itu. Dengan adanya ice breaking diharapkan dapat menghilangkan rasa bosan dan membuat siswa fokus kembali sehingga siap untuk melanjutkan pelajaran.



Daftar Pustaka
Sunarto dan B. Agung Hartono. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Melvin Silberman. (2009). Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif.
Sugihartono, dkk. (2012). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Mumammad Ali. (2008). Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
http://www.batararayamedia.com/jenis-masalah-siswa-di-sekolah-dasar_art-115.html di unduh pada Senin, 11 Maret 2013 pada pukul 18.18 WIB.
http://www.andragogi.com/ice-breaking-dan-orientasi.html di unduh pada Senin, 11 Maret 2013 pada pukul 18.45 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar